Bermain saham ibarat bermain dadu. Para investor selalu tergoda untuk lebih mengandalkan firasat atau faktor-faktor yang dikenal sebagai sentimen pasar. Mereka merasa kurang sreg kalau mendasarkan keputusan investasinya pada observasi, analisis dan perhitungan yang rasional. Memang, dalam investasi saham secara jangka pendek, faktor sentimen cenderunmg dominan, sehingga yang punya ‘indera keenam’ sering meraup untung besar.Tapi, untuk investor yang berorientasi jangka menengah dan panjang, menjadikan sentimen pasar sebagai patokan utama, bukanlah suatu langkah bijak.
Warren Buffet, seorang investor tersukses di abad ke-20 pernah berkata demikian: “Ada dua prinsip yang mesti dipegang teguh oleh setiap investor di bursa saham.
Pertama, mendengarkan bisikan firasat (memakai kecerdasan emosinal = Emmotional Quotient) .
Kedua, menggunakan nalar (kecerdasan intelektual=Intelectual Quotient). Kedua ‘kecerdasan’ itu mesti ‘berjalan’ berdampingan’ agar seorang tidak modar di pasar modal.”Meski percaya pada kombinasi dwi-kekuatan tersebut, dalam berbagai kesempatan Buffet lebih getol memberi tip bernuansa IQ. Buffet mengatakan, jalan menuju sukses di bursa saham setiap investor mesti melakukan analisis fundamental dan memilih saham yang prospektif atau saham yang berpeluang tumbuh secara konsisten dalam periode waktu yang panjang. (James K. Glassman, International Herald Tribune, 30/4, 2001).Nasihat agar para investor bersikap rasional –mendasarkan diri pada analisis fundamental, juga teknikal- dapat disimak dari berbagai gagasan dan tips yang disampaikan para guru investasi yang petuahnya diulas dalam buku ini. (Baca Tips No 1 –10)Meski demikian belakangan ini berkembang pula suatu tren yang menganjurkan agar para investor tak hanya mengandalkan emosi dan inteligensi, tapi juga kekuatan spiritual (SQ) atau doa.
Bill Graham, soko guru investasi bursa saham yang juga seorang pelayan gereja yang amat populer di Amerika Serikat, mengatakan bahwa agar sukses dalam berinvestasi saham, setiap investor mesti membawa rencana investasinya ke dalam doa, mohon hikmat dan kebijaksanaan agar dapat membuat keputusan investasi secara benar (Baca Tips No. 11).Ahli tafsir Kitab Suci Betty Miller berpendapat, membawa rencana investasi saham ke dalam doa merupakan sesuatu langkah yang tepat karena Kitab Suci, khususnya Kitab Amsal, -sekali pun tak menyebut istilah pasar modal- mengemukakan sejumlah prinsip yang amat sesuai digunakan dalam konteks berinvestasi di pasar modal. (Bdk. Amsal 13:4-6, 11, Galasia 6:7-8; 2 Tesalonika 3:10; dan Mazmur 37:18-19)Apabila seorang investor terbiasa merencanakan dan melakukan keputusan investasi saham dengan cara mendayagunakan ketiga ‘kecerdasan’ tersebut, maka sesungguhnya ia mendidik dirinya sendiri untuk bertumbuh menjadi seorang investor saham yang bijak.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar