Apa yang harus dilakukan oleh seseorang yang mempunyai uang?
Menyimpan uangnya dibank dalam ujud deposito dan dapat tidur nyenyak atau akan diinvestasikan kebidang lainnya. Investasi dapat dilakukan di riil asset seperti tanah, rumah, emas, membuka toko, warung, membeli lukisan dan riil asset lainnya. Investasi juga dapat dilakukan di financial asset seperti valas, obligasi, saham, SBI, dan financial asset lainnya (di capital market maupun di money market).
Investasi di pasar modal merupakan alternatif yang perlu dipertimbangkan oleh orang yang ingin melakukan investasi di financial assets.
Penilaian harga sekuritas yang diperdagangkan di pasar modal perlu dianalisis baik secara fundamental. Para akademisi lebih cenderung menggunakan analaisis fundamental yang menggunakan ratio-ratio keuangan, prestasi earnings, dan dividen.
Dasar pemikirannya adalah pada asumsi yang digunakan.
Akademisi lebih mempercayai bahwa harga yang terjadi di pasar saham bersifat Identically Independent Distributed (IID) atau terdistribusi secara identik dan independen, tidak ada hubungan kausalitas antara harga historis, harga sekarang, maupun harga dimasa akan datang. Harga yang terjadi benar-benar saling asing karena dasar pemikirannya pada teori random walk. Teori ini menyatakan bahwa harga yang terjadi bersifat random dan tidak berpola serta tidak dapat dipengaruhi dan tidak dapat diprediksikan. Dalam jangka panjang untuk menilai harga saham diperlukan prediksi berdasarkan atas harga teoritis atau nilai intrinsiknya.
Future earning merupakan pedoman yang penting yang tercermin pada ekspektasi dividen. independen, tidak ada hubungan kausalitas antara harga historis, harga sekarang, maupun harga dimasa akan datang.
Kebalikannya, para praktisi lebih mempercayai pada analisis teknikal yang tidak terlalu risau dengan pertimbangan future earning dan dividen. Dasar pemikirannya adalah tidak seorangpun yang tahu secara pasti apa yang akan mempengaruhi prospek earning maupun pembayaran dividen (Malkiel, 1990: 31).
Yang terpenting adalah bagaimana memprediksikan rata-rata opini yang akan terjadi dan belajar dari hal-hal dimasa lalu agar tidak mengalami hal yang
sama dimasa depan. Artinya, kecenderungan atau trend harga merupakan faktor penting dari analisis teknikal. Selain trend rata-rata pergerakan (moving average) juga dipergunakan untuk menaksirkan rata-rata opini yang tercermin pada gerakan harga.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal kedua pendekatan tersebut biasanya digunakan dalam menilai harga saham dan membantu membuat keputusan investasi. Untuk analisis fundamental dapat dipelajari pada text book investasi, teori portfolio dan manajemen risiko. Analisis teknikal banyak dipelajari dalam training-training pasar modal. Paper ini, penekanan pada kiat-kiat menilai saham dan bagaimana teknik untuk memperoleh gain di pasar modal dengan menggunakan analisis fundamental.
Paper ini disusun dengan urutan bab I adalah Pendahuluan, dilanjutkan bab II. mengungkapkan kiat-kiat dalam berinvestasi di pasar saham. Bab III mengenai analisis fundamental.
KIAT-KIAT BERINVESTASI DI PASAR SAHAM
Sebelum membicarakan kiat-kiat berinvestasi di pasar saham perlu diketahui lebih dahulu mitos-mitos yang terjadi di pasar saham yang sering menjerumuskan calon investor dan investor dalam pengambilan keputusan berinvestasi (Diliddo, 1998).
A. Mitos dalam Pasar Saham
Ada lima (5) buah mitos dalam pasar saham.
2. Price to earning ratio (P/E) memberikan informasi bahwa apakah suatu saham mahal atau murah.
Rasio P/E mudah diketahui baik dari koran, majalah, ataupun publikasi laporan saham (misal, Bisnis Indonesia, Warta Ekonomi, Wall Street Journal) tetapi P/E tidak memberikan arti apapun untuk menilai saham. Tidak bisa dengan mudahnya membandingkan suatu perusahaan A yang mempunyai P/E 7 dengan saham B yang mempunyai P/E 14 dan kemudian dikatakan bahwa perusahaan dengan P/E 14 mencerminkan harga yang lebih murah atau justru lebih mahal. Dibutuhkan informasi lainnya. Yang dibutuhkan investor adalah value to price ratio. Dengan value to price ratio investor dapat menentukan dengan cepat apakah suatu saham dijual dengan harga yang murah atau mahal. Untuk mengetahui value to price ratio dibutuhkan rumus dan teori mengenai nilai intrinsik yang cukup komplek dan membutuhkan lebih banyak waktu. Untuk keputusan segera value to price ratio tidak cocok untuk digunakan.
3. Adanya asumsi bahwa risiko yang tinggi diperlukan untuk membuat banyak uang dalam pasar saham.
Persepsi mengenai risiko tinggi dalam melakukan investasi tidak semata-mata tanpa alasan. Menginvestasikan uang dalam saham adalah jalan yang terbaik dari rata-rata orang untuk meningkatkan kesejahteraannya. Kadang lebih aman daripada menginvestasikan uang pada real estate, lukisan atau benda-benda antik, ataupun pada real assets lainnya. Investor dapat memperoleh banyak uang dalam membeli saham pada risiko yang rendah jika:
membeli saham dengan konsisten dengan predictable earning growth;
membeli saham dengan earning growth rates yang sama atau lebih besar dari jumlah tingkat inflasi sekarang dan tingkat bunga yang berlaku;
jangan investasikan lebih dari 10% uangmu dalam satu buah saham saja;
jangan memiliki lebih dari 2 saham dalam industri yang sama;
jangan masukkan seluruh uangmu dalam pasar saham tetapi distribusikan ke investasi lain sepanjang waktu;
membatasi risiko dengan menggunakan stop-sell order dan stop-loss (prosentase dalam menanggung rugi untuk menghindari kerugian lebih banyak).
Saham dengan predictable earnings growth yang konsisten adalah saham teraman yang dapat dibeli. Sebuah portofolio dengan rata-rata earnings growth rate paling minim 14% per tahun mempunyai kemungkinan nilainya akan menjadi dua kali lipat dalam lima tahun. Dalam 20 tahun nilainya akan meningkat 1.500 %. Jika anda membeli 10 buah saham dan memberi batasan kerugian pada setiap saham maksimal 10% dengan menggunakan stop-sell orders, maka risiko portofolio totalnya hanya 10% karena risiko untuk setiap saham hanya 1%. Adakah investasi lain yang seaman ini?
4. Membeli saham pada saat harga turun dan menjualnya pada saat harga naik
Mitos ini adalah kata-kata bijak kumo yang menyatakan bagaimana memperoleh uang dalam pasar saham, yaitu membeli rendah dan menjual tinggi. Hal ini tidak benar. Persoalan ini timbul karena investor bingung dengan pendapat konvensional yang mengasumsikan bahwa jika harga saham bergerak turun berarti harga rendah dan jika harga bergerak naik berarti harga tinggi. Sebagai konsekuensinya, investor membeli saham pada saat harga turun dan menjualnya pada harga tinggi. Hal ini merupakan suatu keputusan yang buruk. Seharusnya, saham dibeli karena ada ekspektasi harga akan naik, dan sebaliknya jika ekspektasinya harga akan turun. Jadi logika yang benar adalah membeli saham pada saat harga mulai naik dan menjualnya pada saat harga mulai turun. Yang terbaik untuk membeli saham adalah pada saat harga dititik balik ke atas (concave) di atas harga old high-nya. Pada saat ini jika saham dinilai dengan benar (fairly valued) maka tidak akan terjadi kerugian dan harga akan melaju naik.
5. Untuk menghindari inflasi dilakukan hedging
Bertahun-tahun para broker saham dan salesmen danareksa selalu menyatakan bahwa saham sebaiknya di hedge untuk menghindari risiko adanya inflasi. Pernyataan tersebut dapat dikatakan benar tetapi juga dapat dikatakan salah, tergantung darimana kita melihatnya. Kenaikan inflasi akan menyebabkan kenaikan suku bunga. Pada kondisi demikian investor dapat mengatakan behwa “saya bisa memperoleh uang banyak dengan bunga obligasi yang tinggi (sebagai catatatan: obligasi dengan floating rate) sehingga mengapa saya harus tetap menginvestasikan uang saya di saham?” Sebagai akibatnya investor akan menjual sahamnya dan harga saham akan turun. Hal lain akibat adanya inflasi yang pasti akan menyebabkan tingkat bunga meningkat (Fisher effect) dan menyebabkan cost of business juga meningkat, lanjutannya corporate earning akan turun dan harga saham akan turun pula. Jika demikian halnya mengapa disebutkan bahwa saham harus di hedge untuk menghindari inflasi? Hal itu disebabkan orang akan dapat memperoleh uang lebih cepat daripada inflasi itu sendiri. Yang harus dilakukan justru menginvestasikan uangnya pada saham yang mempunyai earning growth rates yang lebih tinggi daripada jumlah inflasi dan tingkat bunga jangka panjangnya. Bila hal ini dilakukan maka harga saham akan naik lebih cepat daripada kenaikan inflasi dan selalu satu langkah di depan kenaikan inflasinya.
6. Orang muda dapat menerima risiko yang lebih tinggi
Mitos ini salah besar dan terbodoh dari semua mitos-mitos lainnya. Orang yang lebih tua memang lebih hati-hati dan konservatif dalam melakukan keputusan karena earnings power mereka yang lebih terbatas, tetapi bukan berarti yang muda akan menerima risiko lebih banyak. Orang yang lebih muda justru lebih memperhatikan rupiah demi rupiah uangnya karena mereka membutuhkan untuk memulai kehidupan keluarga dan kariernya. Semua orang tidak menginginkan untuk menerima risiko yang lebih besar baik orang tua maupun orang muda (in finance we always say “we are risk averter”).
7. Gunakan pialang yang bonafit
Ada empat jenis pialang dalam pasar modal, yaitu (1) perantara, (2) penasihat investasi, (3) manajemen investasi, dan (4) underwriter (penjamin emisi). Dalam memilih satu dari 186 pialang di Indonesia perlu diingat bahwa pialang yang berpengalaman dan dapat dipercaya, sesuai dengan kebutuhan, didukung oleh permodalan yang cukup dengan sistem operasional yang baik serta fasilitas kemudahan akan amat membantu investor melalukan investasinya
8. Membeli saham secara bijaksana
Dalam membeli saham harus bijaksana, realistis, dan tidak dipengaruhi oleh emosi dan sifat serakah. Bersikap bijaksana dan hati-hati adalah konsep yang harus selalu diingat dalam berinvestasi. Dalam pasar modal disebut prinsip caveat emptor.
Ada empat jenis saham yang dapat dibeli, yaitu:
(1) income stock, saham dengan pembayaran dividen yang tinggi dan ajeg, disukai oleh investor dari dana pensiun, asuransi, dan institusi yang membutuhkan kepastian pendapatan;
(2) total return stock, perusahaan dengan kebijakan membagikan dividen tinggi sekaligus juga sedang masuk dalam periode primadona, merupakan perusahaan besar yang sedang naik daun;
(3) growth stock, saham yang lebih menitik beratkan pada pertumbuhan dan investasi perusahaannya dan tidak pada pertumbuhan dividen, biasanya dari perusahaan berskala kecil-menengah yang sedang tumbuh; dan
(4) speculative stock, saham yang volatilitasnya besar selalu berfluktuasi dan bersifat tidak stabil, investor yang memilih jenis saham ini harus hati-hati karena dapat memberikan gain besar sekaligus juga dapat memberikan loss tinggi. Pengaturan waktu “masuk” dan “keluar” perlu diperhatikan.
9. Lebih menggunakan otak daripada luck
Berinvestasi bukanlah judi sehingga perlu persiapan pengetahuan lebih dahulu daripada hanya sekedar mendasarkan pada “keberuntungan” semata. Overtrading melebihi margin yang dimiliki amat tidak dianjurkan karena mendorong investor bersifat addict (kecanduan), denda yang dikenakan jika overtrading/overlimit adalah 36% pertahun. Untuk melakukan investasi jika tidak mempunyai kemampuan yang cukup sebaiknya meminta bantuan manajer investasi yang berlisensi atau membeli reksadana. Melakukan diversifikasi investasi amat dianjurkan sesuai konsep “don’t put all your eggs in one basket.” Risiko harus dibagi ke dalam beberapa jenis investasi agar dapat mengurangi kerugian yang harus ditanggung. Ada tiga faktor yang diantisipasi oleh seorang investor (Sheimo, 1999): (1) real factor, faktor yang senyatanya mendorong pergerakan harga saham, yaitu tingkat suku bunga dan laba emiten, (2) imagined factor, merupakan opini, sikap, dan analis ekonomi, dan (3) fabricated factor, sikap investor menanggapi kedua faktor di atas yang tercermin dalam keputusan membeli/menjual karena persepsi, emosi, reaksi, dan antisipasi para investor (sering menjurus pada reaksi yang berlebih/overreact).
10. BerInvestasi dalam jangka panjang
Bursa efek merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang mempunyai optimisme tinggi. Bila investor percaya akan harga saham selalu berulang mengikuti pola tertentu (berkebalikan dengan sifat IID), maka berinvestasi dalam jangka panjang akan menghindari adanya sentimen dan tekanan fluktuasi jangka pendek. Time horizon panjang akan menyebabkan compounding effect dapat bekerja secara optimum. Sentimen dan tekanan jangka pendek yang mengaburkan dapat dinetralisir dengan investasi jangka panjang. Investasi dalam 1 tahun merupakan pilihan yang cukup baik bagi para investor dan lebih pendek untuk para spekulator.
11. Membiasakan diri untuk mengikuti perkembangan informasi di bursa saham
Mencari informasi dari internet, koran, TV, dan summary pasar modal amat dianjurkan. Mengikuti investment club atau perkumpulan yang membahas dan mempelajari kiat-kiat bisnis di pasar saham amat membantu meningkatkan pengetahuan Di USA ada National Association of Investors Corporation (NAIC) dan di Indonesia Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (MISI) merupakan asosiasi yang membantu para investor membentuk serta mengoperasikan klub investasi. Kursus-kursus security analyst, investment management, dan technical analysis dapat membantu menambah pengetahuan investor. Konsep “your best financial planner is you,” merupakan konsep bijak yang perlu diikuti.
12. Memperoleh undervalued gain di IPO (Initial Public Offering
Berdasarkan atas riset di USA, Eropa, dan di emerging capital market, saham yang dijual pada IPO atau pasar primer, harganya hampir selalu undervalued. Strategi undervalued dilakukan agar saham baru ini mempunyai god signal, mempunyai prospek baik. Instant gain yang diperoleh pada pasar perdana dapat hanya dalam hitungan hari atau minggu. Banyaknya permintaan pada IPO dengan harapan akan mendapatkan instant gain sering menyebabkan adanya oversubscription, adanya penjatahan pembelian. Oversubscription memberikan kesan pada pembeli yang tidak mendapatkan sejumlah besar saham yang diinginkan untuk menaikkan harganya di gray market.
13. Memilih saham dalam prospek industri yang akan menjadi primadona
Pengalaman Fidelity Magelland Fund, sebuah perusahaan Danareksa di USA melalui CEO-nya, Peter Lynch, Morris Smith, dan Jeffrey Vinik, amat sukses memperoleh tenbagger atau keuntungan 10 kali lipat dari industri berbasis teknologi di tahun 1995 yang pada saat itu menjadi primadona di USA serta mengungguli pendapatan S&P 500 (Bruner, 2003). Keberhasilan Magelland Fund tidak semata-mata karena faktor luck tetapi karena dukungan 100 orang periset yang dimilikinya. Melihat posisi product life cycle suatu industri akan membantu investor untuk memprediksikan prospek saham yang dibeli.
14. Menanti technical rebond untuk mendapat gain besar
Pada saat pasar lesu dan kondisi kacau yang dipicu oleh overreact investor, laba besar masih mungkin untuk diperoleh. Buy when there is blood in the street, pepatah itu banyak dilakukan oleh Magelland fund yang justru membeli saham pada saat orang panik yang dipicu oleh emosi yang berlebih. Dalam pasar modal ada suatu pola yang selalu terjadi yaitu bila saham sudah turun pasti suatu saat nanti akan berubah arah (technical rebound) dan akan naik, sebaliknya jika harga saham naik suatu saat akan berbalik arah dan akan turun. Investor tetap dapat memperoleh keuntungan dari kondisi seperti ini asalkan investor sabar menunggu saatnya tiba. Investasi jangka panjang dapat menetralisir penurunan yang terjadi dengan menanti terjadinya rebound. Pertanyaannya, untuk berapa lama investor harus menunggu? Buy on the rumors and sell on the news, jika yakin bahwa penurunan yang terjadi lebih-lebih diakibatkan rumors, maka membeli saham yang dijual karena kepanikan dan menjualnya kembali pada saat kondisi membaik. Sebagai catatan: jika harga turun sampai 30% perhari akan ada otomatic rejection oleh bursa (suspend)
Beware! The thundering herd will be blundering herd
Investor institusi (dana pensiun, kesejahteraan karyawan, asuransi, dan reksadana) dengan dananya yang amat besar mendominasi perdagang-an. Diasumsikan investor institusi sebagai kawanan hewan yang bergemuruh menuju kesuatu arah, thundering herd. Gemuruhnya investor institusi banyak mengundang investor individu untuk mengikutinya (hal ini terjadi juga bagi investor domestik yang mengikuti investor asing). Kesalahan analisis investor institusi yang dengan mudah mengalihkan dananya akan menjadi bumerang bagi investor individu yang mengikutinya karena akan menjadi blundering herd, tergilas. Saham yang dibeli oleh investor institusi yang tidak bergerak atau bergerak amat tipis, tetap dapat menguntungkan bagi investor institusi karena jumlah dana yang besar. Untuk perusahaan individu, perubahan yang amat kecil hanya cukup untuk menutup biaya transaksi (0,3% untuk beli dan 0,4% jual dengan biaya transaksi minimal sebesar Rp20.000) dengan perubahan tick. Kenaikan/penurunan satu tick berbeda-beda sesuai dengan harga saham:
0 - Rp500 = Rp5,-
Rp500 - Rp5000 = Rp 25
>Rp 5000 = Rp 50
15. Membeli saham yang menawarkan buyback
Buyback artinya ada opsi dibeli kembali oleh emiten yang mengeluarkan saham tersebut. Opsi ini menjadi suatu tawaran yang menarik karena memberikan indikasi bahwa saham tersebut cukup menarik dan menjanjikan dimasa depan. Contoh saham Aqua yang banyak menawarkan buyback walaupun banyak investor yang lebih menyukai untuk mempertahankannya (hold) daripada menjualnya kembali. Strategi buyback ini sering digunakan oleh emiten untuk meningkatkan harga. Buyback berdasarkan aturan bursa hanya dibatasi 10% dari jumlah saham yang beredar untuk menjaga likuiditas. Perlu diwaspadai bahwa strategi buyback digunakan emiten untuk melakukan window dressing, menutupi kondisi fundamental emiten senyatanya.
B. Bagaimana Memilih Saham?
Aturan-aturan yang masuk akal berikut ini merupakan pedoman dalam memilih saham yang akan dibeli di pasar.
1.Sebaiknya memilih saham yang undervalued
Bijaksana jika memilih saham yang mempunya pengalaman memberikan earnings yang konsisten dan growing earning yang cepat. Jika nilai saham lebih tinggi dari harganya maka harga disebut undervalued, maka saham jenis ini adalah kandidat untuk dipilih. Saham yang undervalued akan memberikan kesempatan sebagai “winner” dan menghindari dari risiko bila dibandingkan dengan saham yang overvalued.
2.Sebaiknya memilih saham yang aman
Harga beberapa saham bagaikan sebuah yoyo yang naik-turun (di Indonesia misalnya pada tahun 2002, Tambang Timah/TINS dan saham-saham bank) dan selalu menimbulkan berita, tetapi ada pula saham yang selalu stabil tenang tidak terlalu berfluktuasi (contoh misalnya, Uniliver, dan HM Sampurna). Kelompok saham pertama mempunyai volatilitas tinggi sebagai pencerminan ketakutan, kekawatiran, dan ketidakpastian dimasa depan, sedangkan kelompok lainnya mempunyai track records earnings performance yang stabil. Volatilitas harga dan peningkatan risiko disebabkan oleh berbagai macam hal seperti, rumors (di Indonesia amat kental nuansanya), pembunuhan secara politik, bencana alam, kondisi keamanan dan lain sebagainya yang menimbulkan kekalutan dan ketidakpastian. Shareholders dengan tingkat kepercayaan yang kecil akan mudah sekali overreact dengan adanya bad news ini. Akibatnya, harga saham dengan earnings performance yang tidak konstan akan lebih menderita bila hal-hal buruk tersebut terjadi. Saham dengan earning yang dapat diprediksikan dan kontinyu akan lebih kuat bertahan dari semua goncangan tersebut. Jelasnya, akan kurang berisiko jika membeli saham dengan kondisi finansial yang stabil daripada perusahaan yang labil (sebagai catatan: saham-saham bukan first layer dapat pula memberikan gain lebih besar jika terjadi overreact hyphotesis).
3. Sebaiknya memilih saham yang harganya sedang naik
Yang paling sulit bagi para investor adalah membeli saham pada saat harga sedang naik. Sebagian dari para investor akan berfikir untuk menunggu sampai harga saham turun sebelum membelinya. Ide membeli saham pada harga rendah masuk akal tetapi itu merupakan kesalahan. Pertama, investor akan kehilangan kesempatan karena saham yang baik tidak akan turun begitu harganya naik. Membeli saham pada harga rendah dan menjualnya pada harga tinggi memang impian setiap orang tetapi seringkali kita tidak pernah tahu kapan titik terendah terjadi dan kapan titik tertinggi dapat diraih.
III. ANALISIS FUNDAMENTAL
A. EFFICIENT MARKET THEORY
Efficient Market Theory (Teori Pasar Efisien) mengatakan bahwa harga sekuritas dinilai secara pas dan benar serta merefleksikan semua informasi dan ekspektasi investor. Teori ini menyatakan bahwa investor tidak dapat mendapatkan keuntungan dari pasar saham secara konsisten karena pasar mengikuti IID (Identically Independent Distributed). Pasar bereaksi sesuai dan segera setelah informasi baru datang. Oleh karena itu diasumsikan bahwa pasar mempunyai harga yang pas/tepat tidak terjadi undervalued atau overvalued untuk semua sekuritas dalam jangka waktu lama sehingga dapat diperoleh keuntungan dari transaksi beli/jual.
Menurut teori pasar efisien, harga mencerminkan semua informasi yang tersedia dan informasi datang secara random/acak sehingga investor tidak akan mendapatkan keuntungan walau menggunakan semua tipe teori yang ada, baik fundamental maupun teknikal. Pasar efisien jika informasi sempurna atau simetris. Informasi disebut sempurna jika memenuhi tiga syarat, yaitu (1) secara kualitas (quality), (2) waktu (time), dan persepsi (perception) diterima sama oleh semua fihak. Informasi simetri jika diasumsikan bahwa setiap detail informasi telah dikumpulkan dan diproses oleh ribuan investor dan informasi tersebut (baik yang lama atau baru) sudah dinilai secara tepat yang tercermin pada harga yang terbentuk.
Dalam kenyataanya informasi tidak bisa fully efficient tetapi economically efficient, yaitu secara weak-form bila informasi pasar yang diketahui; semi-strong form berdasarkan atas informasi yang dipublikasikan; dan strong-form jika semua informasi baik pasar, publik, maupun privat diketahui. Pengujian weak-form efficient dengan melihat anomali pasar (overreact hypothesis). Pengujian semi-strong melalui event study dengan melihat abnormal return sebelum, saat dan sesudah event terjadi. Pengujian strong-form dilakukan dengan memasukkan semua unsure informasi yang ada.
Return tidak dapat ditingkatkan dengan mempelajari data saham historis, baik menggunakan fundamental maupun teknikal karena data lampau tidak berpengaruh terhadap harga kini dan harga diwaktu yang akan datang.Persoalan yang timbul pada analisis fundamental dan teknikal adalah keduanya melakukan ekspektasi berdasarkan pada harga saham masa lampau. Menurut teori pasar efisien, return tidak dapat diperoleh walaupun investor telah menggunakan indikator analisis teknikal yang mempunyai track record hebat, kondisi oversold, maupun menggunakan trend industri dls. Sebaliknya, informasi tidak simetri atau pasar tidak efisien jika ekspektasi investor dapat mengendalikan harga. Artinya, harga masa lampau mempunyai pengaruh yang signifikan mempengaruhi harga yang akan datang.
B. FUNDAMENTAL ANALYSIS
Fundamental analysis (analisis fundamental) merupakan analisis mengenai ekonomi, industri, dan perusahaan yang menentukan nilai saham perusahaan. Analisis fundamental memfokuskan pada statistik laporan keuangan perusahaan untuk menentukan harga saham dinilai secara tepat. Sebenarnya, dalam menganalisis nilai suatu saham akan lengkap jika menggunakan analisis fundamental dan analisis teknikal.
Analisis fundamental digunakan sebagai penunjuk arah/baromenter jangka panjang (long-term point of view). Analisis fundamental melihat perkembangan rasio-rasio keuangan dari sisi likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, market to book value analysis, turnover, dan kebijakan keuangan perusahaan dalam melakukan investasi dan pendanaan. Selain itu, perkembangan kinerja dan kebijakan dividen dapat melengkapi analisis fundamental.
Analisis teknikal lebih bersifat jangka pendek karena hanya menggunakan harga saham historis (merupakan last done) sebagai pedoman. Sering terjadi mengaplikasikan analisis teknikal ke grafik dengan menggunakan data fundamental, misalnya membandingkan trend tingkat bunga dengan perubahan harga sekuritas. Juga populer menggunakan analisis fundamental untuk memilih sekuritas dan kemudian menggunakan analisis teknikal untuk melihat perdagangan secara individual. Investor akan mendapatkan keuntungan jika menggunakan kedua analisis.
Kebanyakan informasi fundamental memfokuskan pada statistik ekonomi, indusrtri, dan perusahaan. Ada empat konsep dasar dalam melakukan analisis. Pendekatan yang digunakan untuk menganalsis sebuah perusahaan dilakukan melalui empat tahap (top-down analysis)
1. melihat kondisi ekonomi secara umum (economic aspect);
2. melihat kondisi industri (industry aspects);
3. melihat kondisi perusahaan (company aspects);
4. melihat nilai saham perusahaan (stock valuation).
1. Economic Analysis (Analisis Ekonomi)
Ekonomi dipelajari untuk menentukan kondisi secara makro/keseluruhan untuk melihat lingkungan pasar saham pada saat ini kondusif/tepat atau tidak. Apakah inflasi perlu diwaspadai? Apakah tingkat bunga cenderung naik atau turun? Berapa penghasilan rata-rata masyarakat saat ini yang mampu untuk investasi? Berapa konsumsi masyarakat saat ini? Bagaimana neraca pembayaran negara saat ini, defisit atau surplus? Apakah money supply saat ini diperbanyak atau dikurangi (tight money policy)? Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah hal-hal yang perlu diketahui untuk menentukan kondisi ekonomi, apakah kondusif untuk berinvestasi di pasar saham.
Aspek ekonomi dapat bersifat internasional, regional, dan nasional baik secara makro maupun mikro. Lingkungan ekonomi internasional, lingkungan ekonomi domestik, dan lingkungan bisnis. Contoh harga minyak dunia; harga emas dunia; tingkat bunga dunia, regional dan nasional; inflasi; nilai tukar; kondisi politik; neraca pembayaran; cadangan devisa; dan bencana alam.
2. Industry Analysis
Industri perusahaan jelas mempengaruhi perusahaan. Analisis industri merupakan lingkungan industri untuk melihat prospect of industry. Misal, tahun 2006: jangka panjang: pertambangan, gas, dan energi; telekomunikasi; jangka menengah: infrastruktur dan properti serta pendukungnya; jangka pendek: tergantung fluktuasi musiman, seperti pertanian, makanan). Jangka panjang dan menengah digunakan untuk real gain, jangka pendek digunakan untuk netting.
Mengetahui kondisi industri perusahaan amat penting. Walaupun saham yang bagus tetapi jika berada dalam industri yang sedang mengalami kesulitan, maka return yang diperoleh hanya cukup saja. Ada suatu pepatah yang menyatakan bahwa a weak stock in a strong industry is preferable to a strong stock in a weak industry. Jadi, saham yang tidak bagus tetapi dalam industri yang bagus lebih menguntungkan daripada saham bagus dalam industri buruk.
3. Company Analysis
Analisis perusahaan digunakan untuk mengetahui kesehatan finansial perusahaan yang bersangkutan. Untuk mengetahui kesehatan keuangan perusahaan dilakukan dengan mempelajari laporan keuangan. ratio keuangan, dan cash flow.
Rasio-rasio keuangan dihitung dari laporan keuangan. Ada lima kelompok rasio keuangan, yaitu profitability (keuntungan), price (harga), liquidity (likuiditas), leverage (hutang), dan efficiency (efisiensi). Untuk melihat kinerja perusahaan melalui rasio keuangan, biasanya dibandingkan dengan perusahaan lainnya dalam industri yang sama untuk menentukan posisi perusahaan apakah "normal" atau “tidak normal.” Selain di bandingkan dengan perusahaan lain, kinerja keuangan juga dapat dibandingkan dengan pasar (diwakili dengan indeks). Berikut ini adalah rasio-rasio yang biasa populer digunakan.
a. Net Profit Margin (NPM).
Rasio profitabilitas NPM dihitung dari Net Income (laba bersih) dibagi dengan Total Sales (jumlah penjualan).
NPM = NET INCOME/ TOTAL SALES.
Rasio ini mengindikasikan berapa banyak keuntungan perusahaan yang di dapatkan dari setiap rupiah penjualan yang terjadi. Sebagai contoh, NPM = 30% mengindikasikan bahwa Rp0,30 dari setiap Rp1 penjualan menghasilkan keuntungan.
b. P/E Ratio (Price/Earnings ratio).
Rasio P/E adalah rasio harga yang dihitung dari current stock market price (harga pasar saham saat ini) dibagi dengan earnings per share (EPS) atau (pendapatan perlembar saham) 4 triwulan yang lalu. EPS diperoleh dari net income (laba bersih) atau earning after tax (EAT) dibagi dengan total share outstanding (jumlah lembar saham yang beredar).
P/E = Current stock market/ EPS.
EPS = NET Income (EAT) / Total Share outstanding.
Rasio P/E memperlihatkan berapa yang harus dibayar oleh investor untuk “membeli” Rp1 earning perusahaan. Sebagai contoh, jika harga pasar sekarang dari sebuah saham adalah Rp2000 dan EPS 4 triwulan yang lalu adalah Rp 200, maka rasio P/E adalah 10 (Rp2000 / Rp200 = 10). Artinya, investor harus membayar Rp10 untuk “membeli” Rp1 earning perusahaan. Tentunya, ekspektasi investor terhadap kinerja perusahaan diwaktu yang akan datang memegang peranan penting dalam mementukan rasio P/E perusahaan. Pendekatan umum yang biasa digunakan adalah dengan membandingkan dengan P/E perusahaan lain dalam industri yang sama. Jika hal lainnya tetap, maka perusahaan dengan rasio P/Eyang rendah mempunyai nilai lebih baik.
c. Book Value Per Share.
Book Value (nilai buku) perusahaan adalah rasio harga yang dihitung dengan membagi total net assets (aset dikurangi hutang) dengan total shares outstanding (jumlah lembar saham yang beredar). Nilai buku tergantung pada metode yang digunakan dan umur aset. Nilai buku berguna untuk menentukan apakah saham overpriced (dinilai terlalu tinggi) atau under-priced (dinilai terlalu rendah). Apabla sebuah sekuritas dijual pada harga jauh di bawah nilai buku, maka diindikasikan bahwa sekuritas tersebut adalah under-priced.
Book Value per share = Total net assets / Total shares outstanding
Total net assets = Total assets - liabilities
Tidak diragukan bahwa analisis fundamental memegang peranan penting dalam penentuan harga saham. Walaupun ekspektasi harga berdasarkan pada faktor-faktor fundamental memberikan arah jangka panjang, penting juga untuk mengetahui histori harga sehingga dapat diketahui bahwa saham yang undervalued tersebut memang tetap undervalued.
Keunggulan analisis fundamental:
1. Analisis fundamental amat berguna dalam menentukan arah jangka panjang 2. Lebih mencerminkan keadaan yang sebenarnya
3. Bisa menjelaskan lebih tepat mengenai alasan mengapa harga naik atau turun
4. Mampu memberikan dasar yang logis dalam pengambilan keputusan investasi.
Kelemahan analisis fundamental:
1. Memakan banyak waktu
2. Sulit berfungsi pada pasar modal tidak efisien karena asumsi dasarnya adalah pasar efisien
3. Asumsi pasar efisien sulit diterapkan karena informasi dapat sempurna berdasarkan atas kualitas dan waktu, tetapi tidak mungkin sama dalam persepsi. Fully effisien tidak mungkin terjadi, hanya economically effisien (weak-form; semi-strong form; dan strong-form).
4. Tidak dapat menggambarkan psikologi pasar dan investor saat itu
5. Tidak fleksibel untuk menentukan periode waktu yang diinginkan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar